Selasa, 05 Juni 2012

MENELADANI CARA MAKAN RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM

1. Ibnul Qayyim berkata: Barangsiapa yang memperhatikan makanan yang dikonsumsi Nabi, niscaya ia mengerti bahwa beliau tidak pernah memadukan menu antara SUSU dengan IKAN, atau antara SUSU dengan CUKA, atau antara DUA MAKANAN yang sama-sama MENGANDUNG UNSUR PANAS, UNSUR DINGIN, UNSUR LENGKET, UNSUR PENYEBAB SEMBELIT, UNSUR PENYEBAB MENCRET, UNSUR KERAS, atau DUA MAKANAN yang mengandung UNSUR KONTRADIKTIF, misalnya antara MAKANAN YANG MENGANDUNG UNSUR PENYEBAB SEMBELIT DENGAN YANG MENGANDUNG PENYEBAB MENCRET, ANTARA YANG MUDAH DICERNA DENGAN YANG SULIT DICERNA, ANTARA YANG DIBAKAR DENGAN YANG DIREBUS, ANTARA DAGING YANG SEGAR, DENGAN YANG SUDAH DIGARAMI DAN DIKERINGKAN, ANTARA SUSU DENGAN TELUR, DAN ANTARA DAGING DENGAN SUSU.
Beliau tidak pernah makan pada saat makanan tersebut masih sangat panas atau masakan yang dihangatkan untuk besok, makanan-makanan yang bulukan (berjamur) dan asin, seperti makanan-makanan yang DIASINKAN, DIASAMKAN, atau DIHANGUSKAN. Semua makanan ini berbahaya dan menimbulkan berbagai macam gangguan kesehatan.

2. Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam biasa melawan unsur panas pada makanan dengan unsur dingin pada makanan lain, unsur kering suatu makanan dengan unsur basah pada makanan lain, sebagaimana beliau memakan mentimun dengan ruthob (kurma matang yang belum dikeringkan), makan tamr (kurma kering) dengan minyak samin, meminum ekstrak kurma untuk melunakkan chymus (Materi semi cair, homogen, berkrim atau seperti gruel yang dihasilkan oleh pencernaan makanan oleh lambung) makanan-makanan keras. Itulah intisari makanan sehat.

3. Beliau tidak biasa minum ketika sedang makan, sehingga akan merusaknya, apalagi jika air tersebut panas atau dingin, karena itu pola makan yang buruk sekali.

4. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, "Rasulullah tidak pernah mencela makanan sedikitpun, jika suka, beliau memakannya, jika tidak dibiarkannya, tidak memakannya." (HR. Bukhari : 5409, dan Muslim : 2064)

5. Beliau menyukai daging, yang paling beliau sukai adalah lengan dan bagian depan kepala kambing. Karena itu, seorang wanita Yahudi pernah meracuninya.

6. Pernah suatu ketika Rasulullah diberi daging, lantas diperlihatkan bagian lengan kepada beliau, maka beliau menyukainya. (HR. Bukhari : 5712, dan Muslim : 194)

7. Daging yang disukai Nabi adalah yang paling baik dan paling mudah dicerna oleh lambung, baik itu daging leher, lengan maupun lengan atas.

8. Beliau juga menyukai makanan-makanan manis dan madu. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu anh, ia berkata, "Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam menyukai makanan-makanan manis dan madu." (Shahihul Bukhari : 5614).

9. Beliau biasa makan roti dengan lauk apa saja yang beliau punya, kadang daging, kadang semangka, kadang kurma, dan kadang cuka. Beliau bersabda, "Sebaik-baik lauk adalah cuka." (Shahih Muslim : 2052).

10. Beliau biasa makan buah-buahan hasil panen negerinya pada musimnya, beliau tidak memantangnya. Ini juga merupakan sarana paling besar untuk menjaga kesehatan.

11. Rasulullah bersabda : "Aku tidak makan sambil bersandar." (Shahihul Bukhari : 5398)
Ada tiga cara bersandar:
a. Bersandar pada rusuk.
b. Bersila.
c. Bersandar diatas sesuatu.
Jenis pertama menyulitkan makan, karena ia menghalangi aliran makanan secara alami, menghambat kecepatan masuknya makanan ke lambung, dan menekan lambung sehingga sulit terbuka untuk makanan. Lambung akan miring, tidak tegak, sehingga makanan tidak mudah sampai kepadanya.
Adapun dua jenis lainnya merupakan gaya duduk orang-orang sombong yang bertentangan dengan jiwa kehambaan.

12. Dalam hadits Anas disebutkan, "Saya melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wassallam duduk dengan posisi iq'a sambil memakan kurma." (Shahih Muslim : 2044)
Beliau biasa duduk dengan posisi iq'a untuk makan, maksudnya duduk dalam posisi bertumpu pada kedua lutu, seraya memposisikan perut telapak kaki kanan, sebagai bentuk ketawadhuan kepada Rabbnya. Ini merupakan posisi paling baik pada saat makan.

13. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda : "Jika salah seorang dari kalian makan, maka janganlah ia membersihkan tangannya sebelum menjilatinya." (Muttafaqun ‘Alaih, Bukhari : 5376, dan Muslim : 2031).

14. Beliau makan dengan menggunakan tiga jemari beliau, dan ini merupakan cara menyuap makanan yang paling bermanfaat.

15. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : "Wahai anak kecil! Sebutlah nama Allah (BISMILLAH), makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah makanan yang terdekat darimu." (Muttafaqun ‘Alaih, Bukhari : 5376, dan Muslim : 2022).

Demikianlah cara makan yang paling baik adalah cara makan beliau shalallahu ‘alaihi wassallam dan cara makan siapa saja yang meniru cara beliau.

Kamis, 11 Maret 2010

Review NegeriAds.Com

Halo teman-teman semua,..

Pada posting kali ini, saya ingin menyampaikan sebuah kabar gembira untuk Anda semua. Kabar gembiranya adalah: telah diluncurkan sebuah jaringan PPC baru, bernama NegeriAds.Com.

PPC Ads Network lagi? Betul sekali. Tapi tentu, jaringan baru ini tidak akan seperti yang lainnya. Jaringan PPC ini akan lebih user friendly, responsif dan tentunya juga lebih membawa untung untuk semua pihak.

Bagi Anda yang tertarik untuk menjadi advertiser, untuk menyebarkan iklan tentang produk-produk Anda, atau produk-produk yang Anda affiliasikan, bisa mulai mencoba untuk mengiklankannya di jaringan NegeriAds.Com.

Cost per Click (CPC) sangat murah, hanya mulai Rp 400 / klik / iklan. Dan dengan dilindungi oleh sistem Anti Fraud (1 klik / IP / hari), Anda bisa lebih tenang dan yakin bahwa setiap sen uang yang Anda keluarkan tidak sia-sia.

Bagi para affiliate dan reseller, Anda bisa menjadikan jaringan NegeriAds.Com pilihan alternatif (atau bahkan pilihan utama) untuk beriklan. Bagi para product owner, Anda pun bisa melakukan hal serupa plus merekomendasikan jaringan baru ini kepada para affiliate dan reseller Anda (karena persaingan di jaringan PPC lain sudah ketat).

Untuk mereka yang ingin menjadikan blog / website yang sudah dimiliki sebagai sebuah mesin uang, segeralah bergabung menjadi publisher NegeriAds.Com, dan mulai jaring komisi dari klak-klik pengunjung pada blog / website Anda. Pendaftaran publisher 100% GRATIS.

NegeriAds.Com memberikan sharing profit yang adil, 50%-50% antara network owner dan para publisher. Untuk jenis dan ukuran iklan, disediakan berbagai ukuran iklan berbasis text dan gambar dengan standard tampilan yang sesuai dengan ukuran IAB.

Minimum payout hanya Rp 50.000 dan dibayar dalam waktu 7-14 hari setelah request komisi dilakukan. Ini jauh lebih baik daripada banyak jaringan PPC lainnya yang baru melakukan pembayaran setelah 30 atau bahkan 40 hari setelah payout diminta... mana mau nunggu lama-lama.

Pada akhirnya, saya rasa NegeriAds adalah tempat yang tepat bila Anda ingin menjadi seorang Advertoser atau Publisher untuk market Indonesia.

Untuk Anda yang ingin tahu lebih banyak tentang NegeriAds.Com dan ingin mendaftar (sebagai Advertiser atupun Publisher), silakan segera datang ke:

•••> http://negeriads.com/index.php?r=4231

Selamat mencoba menjadi publisher NegeriAds.

Salam sukses untuk Anda!

KESALAHAN-KESALAHAN MEMAHAMI MANHAJ

Manhaj telah menjadi sebuah kata yang sangat familiar sekarang ini, khususnya di dunia dakwah, bahkan banyak pula pembahasan-pembahasan yang mengupas masalah ini secara khusus, pertanyaan-pertanyaan pun selalu terlontar meramaikan kajian-kajian ilmiyah, bahkan perdebatan seputar manhaj juga menjadi topik yang sangat hangat.

Muhammad Ad Duwaisy mengatakan: “Pembicaraan seputar manhaj merupakan salah satu ciri kematangan berpikir ilmiyah”. Tentu bukan hanya memiliki kematangan istinbath (analisa) tetapi harus juga menguasai dalil yang ada. Berkutat sebatas bagian cabang masalah saja tentu belum menjadikan pembahasan itu dikatakan ideal, akan tetapi telaah dan menjadikannya sebagai bahan diskusi dalam tataran ushul (masalah-masalah pokok) mutlak diperlukan.

Ketentuan itulah yang sebenarnya telah menjadi etika ilmiyah di kalangan para ulama Rabani yang seakan-akan hilang entah kemana, mungkin metode didalam kita menuntut ilmu yang tidak berqudwah lagi dengan para ulama Rabani atau mungkin juga karena keikhlasan di hati kita yang perlu diluruskan lagi, karena didominasi hawa nafsu. Allahu a’lam.

Fenomena yang sangat memprihatinkan sekarang adalah adanya upaya-upaya yang hanya mengarah pada perdebatan dan pertikaian dalam barisan umat islam, bahkan dalam barisan Ahlusunnah wal Jama’ah. Mencurahkan tenaga dan upaya dalam konteks untuk mengungkap rambu-rambu manhaj dan kaidah-kaidahnya di zaman sekarang jelas lebih dibutuhkan.

Apa-apa yang saya tulis disini tidak lebih dari sekedar upaya pribadi, saya berharap kepada pembaca yang budiman agar perbedaannya dengan saya dalam sebuah masalah tidak menimbulkan penolakan terhadap kebenaran lain yang datang melalui saya ini . Setiap orang boleh diambil perkataannya dan ditolak kecuali Al Ma’sum ( Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam).

Makna manhaj secara bahasa.
Dalam Mu’jam Maqayis al Lughah Ibnu Farisi mengatakan bahwa“ Manhaj” berasal dari huruf ج هـ ن dan memiliki makna diantaranya :
•Yang pertama “ النَّهْحُ ” yaitu “jalan”, ini dalah makna Manhaj yang menunjukan kepada sesuatu yang hissi (sesuatu yang terlihat).
•Yang kedua “نَهْجُ اْلأمْرِ ” artinya “menjelaskan perkara”, ini pengertian Manhaj yang menunjukan kepada sesuatu yang maknawi.

Jika merujuk kepada kamus Lisanul ‘Arab, kita akan menemukan kata ” المنهاج ” dan mustasyqaat-nya(turunannya) memiliki beberapa makna:
1. Jelas, seperti:طريق نهج , yang berarti jalan yang terang dan jelas. Dan kata المِنْهاَجُ berarti jalan yang jelas, sedang kata استنهج الطريق berarti jalan itu menjadi jelas.
2. Meniti Jalan, seperti dalam kalimat: نهجتُ الطريق : “saya menempuh suatu jalan”, dan النهج juga artinya jalan yang lurus.
3. Tidak bersambung, dan ini bukan termasuk kedalam pokok pembahasan disini.
Al-Manhaj dalam al-Kitab dan as-Sunnah.
Dalam al-Quran al-Karim kata al-manhaj terdapat dalam firman Allah ta’ala
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
Untuk tiap-tiap umat diantara kamu kami berikan aturan dan jalan yang terang (QS. Al Maidah [5]:48.

Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa Al Manhaj adalah “Jalan yang lurus, jelas dalam agama.” (Lihat Ahkamul Qur’an juz 2/211 dan Ruhul Ma’ani karya Al Alusi juz 2/153).
Adapun dalam As Sunnah An Nabawiwah penggunaan istilah ini diantaranya terdapat dalam hadits Hudzaifah bin Al Yaman –semoga Alloh meridhoinya- bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
Kemudian akan datang setelahnya kekhalifahan yang berjalan diatas minhaaj (jalan) kenabian (HR. Ahmad 4/273).

Kata Manhaj atau minhaj sebenarnya adalah kata yang bermakna umum, akan memimiliki makna yang sesuai pada saat disesuaikan dengan kontek kalimatnya. Misal pada hadits diatas makna Minhaju An Nubuwah maksudnya adalah Sistem dalam hukum dan siasah (politik) yang digunakan dalam kekhilafahan tersebut. Syaikhul islam Ibnu Taimiyah menulis buku yang berjudaul Minhaju As Sunnah An Nabawiyah fii naqdi Kalam Asy Syi’ah wal Qadariyah, Maksudnya adalah jalan (metode) dalam sunnah untuk masalah aqidah seluruhnya, baik dalam masalah keimanan , asma wa sifat Allah, tentang surga dan neraka, ataupun yang sejenisnya dalam pembahasan aqiadah secara terperinci, termasuk juga untuk menyelisihi ahlul bid’ah dalam kebid’ahannya dari orang-orang rafidhah, mu’tazilah, qodariyah dan lainnya yang telah menyimpang dari petunjuk Nabi.

Oleh karena itu banyak ulama yang menulis buku-buku dan diberi judul As Sunnah, seperti Ibnu Nashr Al Maruzi, ‘Abdullah ibnu Ahmad, Al Atsram, Ibnu Abi Zamanin dan yang lainnya yang didalamnya membahas masalah aqidah yang bersumber dari Rasulullah dan menyelisihi kelompok-kelompok yang menyimpang dari petunjuknya.

Ketika seseorang mengatakan “Manhaj fulan” maka maksudnya adalah apa yang menjadi metode, kaidah-kaidah ataupun asasnya dalam penulisan-penulisannya, dalam ta’sil ilminya ataupun dakwahnya. Misal kita mengatkan “Manhaj Imam AthThabari fii tafsirihi”, maksudnya adalah Metodologi yang digunakan oleh Imam Ath Thabari dalam penulisan tafsirnya baik dari sistematika penempatan ayat-yatnya, hadist-haditsnya, perkataan para shahabat, pengelompokan temanya juga sanadnya (jalur periwayatan), serta terjih (penguatan) diantara periwayatan yang berebeda. Didalam dunia pendidikan modrn sekarang dikenal juga istilah Al Manhaj Ad Dirasiy maka maksudnya adalah Kurikulum pendidikan yang digunakan oleh institusi pendidikan tertentu. Maka disinilah kenapa dikatakan Kata Mahaj adalah kata yang bermakna umum yang akan dipahami dengan benar jika disesuaikan dengan kontek kalimatnya. Kata Manhaj sering pula digunakan untuk manhaj yang terpuji maupun yang tercela, missal: Manhaj Al Haq dan Manhaj al Bathil, Manhaj Al Huda dan Manhaj Adh Dhalal, Manhaj Al Khotho’ dan Manhaj Ash Shawab, Manhaj Al Iman dan Manhaj Al Kufur dan lain-lain. Ketika kita mengatakan Manhaj As Salaf berarti jalan yang ditempuh oleh mereka-semoga Allah meridhoi mereka semua- akan tetapi manhaj disisi mananya? Apakah dalam masalah aqidah? tentu dalam masalah aqidah akan mencakup diadalamnya keimanan, tauhid baik rububiyah, uluhiyah dan asma wa sifat, atau manhaj salafus saleh terhadap para sahabat Nabi, dalam akhlaq, ibadah, pendidikan, jihad, amar ma’ruf nahy munkar dan sebagainya. Jadi manhaj as salaf bermakna luas, karena mencakup semua aspek kehidupan mereka tanpa mengabaikan yang besar ataupun yang kecil, tidak mengecualikan dari mereka juga kekurangan mereka sebagai manusia biasa dan kemuliaa-kemulaian meraka sebagai manusia-manusia terbaik. karena sebagian dari mereka ada yang duduk di masjid dalam majlis ilmu, sebagian mereka juga pergi untuk amar ma’ruf nahy munkar sebagian mereka juga pergi kemedan jihad, ada yang berjaga di perbatasan. Mereka semua memiliki keutamaan-keutamaan, baik dalam akhlaq mereka, pendidkan mereka, ibadah mereka, taqwa mereka kepada Allah dan keikhlasannya, dakwah mereka serta disetiap amal kebaikan yang ditempuh oleh mereka.

Kesalahan-Kesalahan Dalam Bermanhaj
Pertama: Menjadikan perkataan seseorang sebagai tolak ukur kebenaran.
Merupakan suatu hal yang tidak perlu di perdebatkan lagi dan tidak perlu juga dicari dalilnya dalam hal ini, bahwasanya perkataan ulama memiliki nilai dan kedudukan menurut kesesuaiannya dengan Al Qur’an dan As Sunnah, tentu tidak secara mutlak semua perkataan mereka selalu kita ambil, buktinya ketika adanya perbedaan diantara dalam suatu permasalahan tentu kita akan melihat dulu dan mengambil salah satu pendapat dari pendapat-pendapat yang ada sambil menjelaskan bahwa yang mengatakan ini adalah ulama, akan tetapi menjadikan perkataan dan pendapat mereka sebagai hujjah syar’i dan sumber hukum maka ini adalah hal lain yang tidak bisa dibenarkan.

Secara teoritis tidak seorangpun dari kalangan ahlus sunnah meyakini kema’suman perkataan seorangpun (selain Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam) serta berpendapat bahwasanya perkataannya adalah hujjah mutlak bagi seluruh umat. Namun dalam prakteknya kita akan menemukan banyak dari orang-orang yang berbicara tentang persoalan-persoalan yang berkaitan dengan manhaj, mereka menjadikan pendapat ulama fulan dan fulan sebagai landasan untuk menilai benar dan tidaknya sesuatu, dan hal ini akan sangat jelas terlihat pada beberapa hal, diantaranya:
- - Istifta’ (permintaan fatwa), sebagian orang (meminta fatwa) kepada ulama dalam setiap masalah yang terjadi dan kemudian menjadikan fatwa atau pendapat tersebut sebagai pegangan satu-satunya tanpa menengok dalil syar’i.
- - Dalam hal penilaian terhadap kegiatan atau program dakwah, atau penilaian terhadap sebagian da’i, mereka terkadang mencukupkan diri dengan bertanya kepada ‘ulama fulan atau fulan, kemudian menjadikan pendapatnya tersebut sebagai hujjah yang mutlak.
- - Menghukumi sebagian da’i sebagai orang yang keluar dari manhaj yang benar dengan alasan bahwasanya dia menyelesihi apa yang dikatakan oleh ulama fulan atau jama’ah fulan atau organisasi fulan atau mungkin melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh ulama fulan.
Bukan maksud kami mengenyampingkan perkataan para ulama ataupun pentingnya meminta fatwa kepada mereka, hanya saja masalahnya berbeda ketika menjadikan perkataan sebagian mereka sebagai hujjah yang mutlak atas umat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : ”Maksudnya adalah barang siapa yang mengangkat seseorang menjadi imam kemudian memberikan kepadanya ketaatan mutlak lahir dan batin, maka dia telah sesat, sebagaimana kesesatan imam-imam syi’ah al-imamiyah...”2 Dan hal ini berlaku pula bagi setiap orang yang menyeru orang lain untuk taat kepada salah seorang ulama dalam setiap hal baik besar maupun kecil tanpa pengecualian, dan juga setiap orang yang menyeru untuk mentaati secara mutlak apa yang dikatakan salah seorang imam dan yang diperintahkan serta apa yang dia larang, seperti imam madzhab yang empat, juga setiap orang yang menyeru untuk taat kepada para penguasa atau pejabat dalam setiap hal yang mereka perintahkan dan mereka larang tanpa pengecualian.

Barang siapa yang membaca buku-buku para ulama yang terdahulu maupun sekarang, maka akan mendapati bahwasanya mereka mencela taqlid buta dan juga orang-orang yang melakukannya.

Mungkin saja sebagian dari orang-orang tersebut memiliki udzur sehingga bertaqlid. Hal ini dikarenakan mereka tidak mengetahui apa-apa yang diketahui orang lain, atau juga mereka belum mencapai pengetahuan dan penguasaan terhadap dali-dalil, sehingga tidak ada lagi jalan bagi mereka kecuali bertaqlid, tetapi hal tersebut tidak bisa dijadikan tolok ukur yang dengannya mereka menghukumi orang lain, atau menganggap orang lain menyimpang, atau menganggap mereka keluar dari manhaj dengan ber-hujjah pada pendapat-pendapat ulama tersebut. Dan jika mereka diajak untuk berdiskusi dengan menggunakan dalil syar’i, mereka berkata “Dia itu bukan ahlul ‘ilmi” sambil mewajibkan dia untuk mengikuti mereka.
to be continue insya Alloh bersambung...

Rabu, 10 Maret 2010

download gratis murotal anak awesome pisan euy

subhanalloh awesome n extraordinary pisan euy. sugan budak urang siga kiyeu.








Minggu, 28 Februari 2010

Berpegang Dengan Al Quran Dan As Sunnah, Mengikuti Atsar Salafus Shalih, Dan Menjauhi Bid’ah

1. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. Dan berpeganglah kamu semua dengan tali Allah dan jangan berpecah-belah. Dan ingatlah nikmat Allah terhadapmu ketika kamu saling bermusuhan maka Dia satukan hati kamu lalu kamu menjadi bersaudara dengan nikmat-Nya dan ingatlah ketika kamu berada di bibir jurang neraka lalu Dia. selamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran : 102-103)

2. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan jangan kamu ikuti jalan-jalan (lainnya) sebab jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Allah berwasiat kepada kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa.” (QS. Al An’am : 153)

3. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing, gigitlah dengan gerahammu dan hati-hatilah kamu terhadap perkara yang baru karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Ahmad 4/126, At Tirmidzy 2676, Al Hakim 1/96, Al Baghawy 1/205 nomor 102)

4. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
Sesungguhnya Allah meridlai tiga perkara untuk kamu --di antaranya beliau bersabda-- : “ ... dan hendaknya kamu semua berpegang dengan tali Allah.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Baghawy 1/202 nomor 101)

5. Hudzaifah bin Al Yaman radliyallahu 'anhu berkata :
“Hai para Qari’ (pembaca Al Quran) bertaqwalah kepada Allah dan telusurilah jalan orang-orang sebelum kamu sebab demi Allah seandainya kamu melampaui mereka sungguh kamu melampaui sangat jauh dan jika kamu menyimpang ke kanan dan ke kiri maka sungguh kamu telah tersesat sejauh- jauhnya.” (Al Lalikai 1/90 nomor 119, Ibnu Wudldlah dalam Al Bida’ wan Nahyu ‘anha 17, As Sunnah Ibnu Nashr 30)

6. Ibnu Mas’ud radliyallahu 'anhu berkata :
“Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah! Sebab sungguh itu telah cukup bagi kalian. Dan (ketahuilah) bahwa setiap bid’ah adalah sesat.” (Ibnu Nashr 28 dan Ibnu Wudldlah 17)

7. Imam Az Zuhry berkata, ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan :
“Berpegang dengan As Sunnah itu adalah keselamatan. Dan ilmu itu tercabut dengan segera maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).” (Al Lalikai 1/94 nomor 136 dan Ad Darimy 1/58 nomor 16)

8. Ibnu Mas’ud radliyallahu 'anhu berkata :
“Berpeganglah kamu dengan ilmu (As Sunnah) sebelum diangkat dan berhati- hatilah kamu dari mengada-adakan yang baru (bid’ah) dan melampaui batas dalam berbicara dan membahas suatu perkara, hendaknya kalian tetap berpegang dengan contoh yang telah lalu.” (Ad Darimy 1/66 nomor 143, Al Ibanah Ibnu Baththah 1/324 nomor 169, Al Lalikai 1/87 nomor 108, dan Ibnu Wadldlah 32)

9. Dan ia juga mengatakan bahwa :
“Sederhana dalam As Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah.” (Ibnu Nashr 30, Al Lalikai 1/88 nomor 114, dan Al Ibanah 1/320 nomor 161)

10. Sa’id bin Jubair (murid dan shahabat Ibnu Abbas) berkata --mengenai ayat- - : “Dan beramal shalih kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha : 82)
Yaitu senantiasa berada di atas As Sunnah dan mengikuti Al Jama’ah. (Al Ibanah 1/323 nomor 165 dan Al Lalikai 1/71 nomor 72)

11. Imam Al Auza’i berkata :
“Kami senantiasa mengikuti sunnah kemanapun ia beredar.” (Al Lalikai 1/64 nomor 47)

12. Imam Ahmad bin Hambal berkata :
“Berhati-hatilah kamu jangan sampai menulis masalah apapun dari ahli ahwa’ sedikit atau pun banyak. Dan berpeganglah dengan Ahli Atsar dan Sunnah.” (As Siyar 11/231)

13. Umar bin Abdul Aziz dalam risalahnya untuk salah seorang aparatnya mengatakan :
Dari Umar bin Abdul Aziz Amirul Mukminin kepada Ady bin Arthaah :
“Segala puji hanya bagi Allah yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia.
Kemudian daripada itu :
Saya wasiatkan kepadamu, bertaqwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam (menjalankan) perintah-Nya dan ikutilah sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan tinggalkanlah apa yang diada-adakan ahli bid’ah terhadap sunnah yang telah berlalu dan tidak mendukungnya, tetaplah kamu berpegang dengan sunnah karena sesungguhnya ia telah diajarkan oleh orang yang tahu bahwa perkara yang menyelisihinya adalah kesalahan atau kekeliruan, kebodohan, dan keterlaluan (ghuluw). Maka ridlailah untuk dirimu apa yang diridlai oleh kaum itu (shahabat) untuk diri mereka sebab mereka sesungguhnya berhenti dengan ilmu dan menahan diri dengan bashirah yang tajam dan mereka dalam menyingkap hakikat segala perkara lebih kuat (mampu) apabila di dalamnya ada balasan yang baik. Jika kamu mengucapkan bahwa ada suatu perkara yang terjadi sesudah mereka maka ketahuilah tidak ada yang mengada-adakan sesuatu sesudah mereka melainkan orang-orang yang mengikuti sunnah yang bukan sunnah mereka (shahabat) dan menganggap dirinya tidak membutuhkan mereka. Padahal para shahabat itu adalah pendahulu bagi mereka. Mereka telah berbicara mengenai agama ini dengan apa yang mencukupi dan mereka telah jelaskan segala sesuatunya dengan penjelasan yang menyembuhkan, maka siapa yang lebih rendah dari itu berarti kurang dan sebaliknya siapa yang melampaui mereka berarti memberatkan. Maka sebagian manusia ada yang telah mengurangi hingga mereka kaku sedangkan para shahabat itu berada di antara keduanya yaitu di atas jalan petunjuk yang lurus.” (Asy Syari’ah 212)

14. Ibnu Baththah berkata :
“Sungguh demi Allah, alangkah mengagumkannya kecerdasan kaum itu, betapa jernihnya pikiran mereka, dan alangkah tingginya semangat mereka dalam mengikuti sunnah nabi mereka dan kecintaan mereka telah mencapai puncaknya hingga mereka sanggup untuk mengikutinya dengan cara seperti itu. Oleh sebab itu ikutilah tuntunan orang-orang berakal seperti mereka ini --wahai saudara- saudaraku-- dan telusurilah jejak-jejak mereka niscaya kalian akan berhasil menang dan jaya.” (Al Ibanah 1/245)

15. Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata :
“Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar serta jauhilah bid’ah.” (Al I’tisham 1/112)

16. Al Auza’i berkata :
“Berpeganglah dengan atsar Salafus Shalih meskipun seluruh manusia menolakmu dan jauhilah pendapatnya orang-orang (selain mereka) meskipun mereka menghiasi perkataannya terhadapmu.” (Asy syari’ah 63)

Berpegang Dengan Al Quran Dan As Sunnah, Mengikuti Atsar Salafus Shalih, Dan Menjauhi Bid’ah

1. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. Dan berpeganglah kamu semua dengan tali Allah dan jangan berpecah-belah. Dan ingatlah nikmat Allah terhadapmu ketika kamu saling bermusuhan maka Dia satukan hati kamu lalu kamu menjadi bersaudara dengan nikmat-Nya dan ingatlah ketika kamu berada di bibir jurang neraka lalu Dia. selamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran : 102-103)

2. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan jangan kamu ikuti jalan-jalan (lainnya) sebab jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Allah berwasiat kepada kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa.” (QS. Al An’am : 153)

3. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing, gigitlah dengan gerahammu dan hati-hatilah kamu terhadap perkara yang baru karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Ahmad 4/126, At Tirmidzy 2676, Al Hakim 1/96, Al Baghawy 1/205 nomor 102)

4. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
Sesungguhnya Allah meridlai tiga perkara untuk kamu --di antaranya beliau bersabda-- : “ ... dan hendaknya kamu semua berpegang dengan tali Allah.” (Hadits dikeluarkan oleh Al Baghawy 1/202 nomor 101)

5. Hudzaifah bin Al Yaman radliyallahu 'anhu berkata :
“Hai para Qari’ (pembaca Al Quran) bertaqwalah kepada Allah dan telusurilah jalan orang-orang sebelum kamu sebab demi Allah seandainya kamu melampaui mereka sungguh kamu melampaui sangat jauh dan jika kamu menyimpang ke kanan dan ke kiri maka sungguh kamu telah tersesat sejauh- jauhnya.” (Al Lalikai 1/90 nomor 119, Ibnu Wudldlah dalam Al Bida’ wan Nahyu ‘anha 17, As Sunnah Ibnu Nashr 30)

6. Ibnu Mas’ud radliyallahu 'anhu berkata :
“Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah! Sebab sungguh itu telah cukup bagi kalian. Dan (ketahuilah) bahwa setiap bid’ah adalah sesat.” (Ibnu Nashr 28 dan Ibnu Wudldlah 17)

7. Imam Az Zuhry berkata, ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan :
“Berpegang dengan As Sunnah itu adalah keselamatan. Dan ilmu itu tercabut dengan segera maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).” (Al Lalikai 1/94 nomor 136 dan Ad Darimy 1/58 nomor 16)

8. Ibnu Mas’ud radliyallahu 'anhu berkata :
“Berpeganglah kamu dengan ilmu (As Sunnah) sebelum diangkat dan berhati- hatilah kamu dari mengada-adakan yang baru (bid’ah) dan melampaui batas dalam berbicara dan membahas suatu perkara, hendaknya kalian tetap berpegang dengan contoh yang telah lalu.” (Ad Darimy 1/66 nomor 143, Al Ibanah Ibnu Baththah 1/324 nomor 169, Al Lalikai 1/87 nomor 108, dan Ibnu Wadldlah 32)

9. Dan ia juga mengatakan bahwa :
“Sederhana dalam As Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah.” (Ibnu Nashr 30, Al Lalikai 1/88 nomor 114, dan Al Ibanah 1/320 nomor 161)

10. Sa’id bin Jubair (murid dan shahabat Ibnu Abbas) berkata --mengenai ayat- - : “Dan beramal shalih kemudian mengikuti petunjuk.” (QS. Thaha : 82)
Yaitu senantiasa berada di atas As Sunnah dan mengikuti Al Jama’ah. (Al Ibanah 1/323 nomor 165 dan Al Lalikai 1/71 nomor 72)

11. Imam Al Auza’i berkata :
“Kami senantiasa mengikuti sunnah kemanapun ia beredar.” (Al Lalikai 1/64 nomor 47)

12. Imam Ahmad bin Hambal berkata :
“Berhati-hatilah kamu jangan sampai menulis masalah apapun dari ahli ahwa’ sedikit atau pun banyak. Dan berpeganglah dengan Ahli Atsar dan Sunnah.” (As Siyar 11/231)

13. Umar bin Abdul Aziz dalam risalahnya untuk salah seorang aparatnya mengatakan :
Dari Umar bin Abdul Aziz Amirul Mukminin kepada Ady bin Arthaah :
“Segala puji hanya bagi Allah yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia.
Kemudian daripada itu :
Saya wasiatkan kepadamu, bertaqwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam (menjalankan) perintah-Nya dan ikutilah sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan tinggalkanlah apa yang diada-adakan ahli bid’ah terhadap sunnah yang telah berlalu dan tidak mendukungnya, tetaplah kamu berpegang dengan sunnah karena sesungguhnya ia telah diajarkan oleh orang yang tahu bahwa perkara yang menyelisihinya adalah kesalahan atau kekeliruan, kebodohan, dan keterlaluan (ghuluw). Maka ridlailah untuk dirimu apa yang diridlai oleh kaum itu (shahabat) untuk diri mereka sebab mereka sesungguhnya berhenti dengan ilmu dan menahan diri dengan bashirah yang tajam dan mereka dalam menyingkap hakikat segala perkara lebih kuat (mampu) apabila di dalamnya ada balasan yang baik. Jika kamu mengucapkan bahwa ada suatu perkara yang terjadi sesudah mereka maka ketahuilah tidak ada yang mengada-adakan sesuatu sesudah mereka melainkan orang-orang yang mengikuti sunnah yang bukan sunnah mereka (shahabat) dan menganggap dirinya tidak membutuhkan mereka. Padahal para shahabat itu adalah pendahulu bagi mereka. Mereka telah berbicara mengenai agama ini dengan apa yang mencukupi dan mereka telah jelaskan segala sesuatunya dengan penjelasan yang menyembuhkan, maka siapa yang lebih rendah dari itu berarti kurang dan sebaliknya siapa yang melampaui mereka berarti memberatkan. Maka sebagian manusia ada yang telah mengurangi hingga mereka kaku sedangkan para shahabat itu berada di antara keduanya yaitu di atas jalan petunjuk yang lurus.” (Asy Syari’ah 212)

14. Ibnu Baththah berkata :
“Sungguh demi Allah, alangkah mengagumkannya kecerdasan kaum itu, betapa jernihnya pikiran mereka, dan alangkah tingginya semangat mereka dalam mengikuti sunnah nabi mereka dan kecintaan mereka telah mencapai puncaknya hingga mereka sanggup untuk mengikutinya dengan cara seperti itu. Oleh sebab itu ikutilah tuntunan orang-orang berakal seperti mereka ini --wahai saudara- saudaraku-- dan telusurilah jejak-jejak mereka niscaya kalian akan berhasil menang dan jaya.” (Al Ibanah 1/245)

15. Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata :
“Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar serta jauhilah bid’ah.” (Al I’tisham 1/112)

16. Al Auza’i berkata :
“Berpeganglah dengan atsar Salafus Shalih meskipun seluruh manusia menolakmu dan jauhilah pendapatnya orang-orang (selain mereka) meskipun mereka menghiasi perkataannya terhadapmu.” (Asy syari’ah 63)

Selasa, 19 Januari 2010

Understanding Islam

1) The deen (religion) of Islam: It is the way of life that Allaah sent the Prophet Muhammad (sal-Allaahu `alayhe wa sallam) with. By it, Allaah terminated the validity of all other religions, perfected this religion for His worshippers, completed His favour upon them and has chosen only this religion for them - no other religion will be accepted by Him from anyone. Allaah (Subhaanahu wa Ta'aala) said:

{Muhammad is not the father of any man amongst you. Rather he is the Messenger of Allaah and the khaatim (last and final) of the Prophets}, [Soorah al-Ahzaab, Aayah 40]

{This day have I perfected your religion for you, completed My favour upon you, and have chosen for you Islam as your religion}, [Soorah al-Maa.idah, Aayah 3]

{Indeed the religion with Allaah is Islam}, [Soorah Aal-'lmraan, Aayah 19]

{Whosoever seeks a religion other than Islam, never will it be accepted from him, and in the Hereafter he will be one of the losers}, [Soorah Aal-'Imraan, Aayah 85]

And Allaah (Subhaanahu wa Ta'aala) obligated all of mankind to take Islam as their religion. So Allaah said, whilst addressing His Messenger (sal-Allaahu `alayhe wa sallam):

{Say: O mankind! Indeed I have been sent to you all as the Messenger of Allaah; to Whom belongs the dominion of the heavens and the earth. None has the right to be worshipped except Him; it is He who gives life and causes death. So believe in Allaah and His Messenger - the Prophet who can neither read nor write - who believes in Allaah and His Words. So follow the Messenger of Allaah so that you may be rightly-guided}, [Soorah al-A'raaf Aayah 158]

And in Saheeh Muslim (1/93), from Abu Hurayrah radhi-yallaahu 'anhu that Allaah's Messenger (sal-Allaahu `alayhe wa sallam) said:

«By Him in whose Hand is the life of Muhammad! There is no one from this nation, be he a Jew or a Christian, who hears of me and then dies without believing in the Message that I was sent with, except that he will be one of the Companions of the Hellfire».

And eemaan (faith) in the Prophet implies: affirming that which he was sent with, along with acceptance of it and submission to it. Without these two matters, mere affirmation is not sufficient. This is why even though Abu Taalib (the Prophet's uncle) affirmed what was sent to the Prophet Muhammad (sal-Allaahu `alayhe wa sallam) and that Islam was the best of religions, yet he did not accept his message nor submit to it; and thus he did not have eemaan, in the Prophet (sal-Allaahu `alayhe wa sallam).

2) The religion of Islam contains all that was beneficial from the previous religions. It is suitable for implementation in any age, anywhere and by any nation. Allaah (Subhaanahu wa Ta'aala) said, whilst addressing His Messenger (sal-Allaahu `alayhe wa sallam):

{And We have sent down to you the Book in truth, confirming the Scripture that came before it testifying to the truth contained therein whilst exposing the falsehood that has been added therein}, [Soorah al-Maa.idah, Aayah 48]

That Islam is suitable for implementation in any age, anywhere and by any nation does not mean that it becomes submissive to nations - being altered and changed by them - as some people falsely think. But rather it means that whenever it is truly adhered to then it brings benefit and goodness to that nation, as well as reforming and correcting it - in whatever age or place.

3) The religion of Islam is the religion of truth. It is the way of life that Allaah (Subhaanahu wa Ta'aala) guaranteed His help and victory for those who truly adhere to it, and that He would make it dominant over all other religions.

Allaah (Subhaanahu wa Ta'aala) said:

{It is He who has sent His Messenger with the guidance and the religion of truth, that it may prevail over all other religions, even if the pagans detest it}, [Soorah at-Tawbah, Aayah 33]

And Allaah (Subhaanahu wa Ta'aala) said:

{Allaah has promised to those amongst you who truly have eemaan (true faith and belief) and act in obedience to Allaah and His Messenger, that He will grant them rulership upon the earth, just as He granted it to those before them, and that He will establish their Religion for them and grant them the authority to practice their Religion which He chose and ordered them with. And He will certainly change their situation to one of security, after their fear. Providing that they worship and obey Me, not associating anything else in worship with Me. Then, whoever rejects this favour by disobedience to their Lord - then they are the rebellious transgressors}, [Soorah an-Noor, Aayah 55]

4) The religion of Islam is a complete religion comprising both 'aqeedah (beliefs) and Sharee'ah (laws).

It commands them with tawheed (to single out Allaah alone for worship) and prohibits them from shirk (associating partners with Allaah in that which is particular to Him).

• It commands them with being truthful and prohibits them from lying.

• It commands them with 'adl (justice) and prohibits them from injustice and oppression.

• It commands them with fulfilling trusts and prohibits them from acting treacherously.

• It commands them with keeping promises and prohibits them from breaking them.

• It commands them with kindness and good treatment of parents and prohibits them from disobedience to them in that which is not sinful.

• It commands them with joining the ties of relations and prohibits them from severing them.

• It commands them with good treatment of neighbours and prohibits the causing of harm to them.

In short, Islam orders all that is good, from manners and morals, and prohibits all that is evil from it.

Likewise, it orders all actions which are righteous and good and prohibits all actions that are evil and harmful.

Allaah (Subhaanahu wa Ta'aala) said:

{Indeed Allaah enjoins upon you justice, kindness and the giving of good to relatives and near ones. And He prohibits you from all shameful and evil deeds, oppression and transgression. Thus He admonishes you, that you may take heed and be reminded}, [Soorah an-Nahl, Aayah 90].